Ega C Raymandha Ega C Raymandha, November 19th, 2015

tipe tipe bos

Jika Anda seorang karyawan sudah tentu anda memiliki atasan di tempat kerja Anda. Jika Anda hanya baru bekerja di satu tempat atau disatu perusahaan mungkin Anda baru menemukan atasan dengan satu tipe karakter saja. Namun bagi Anda yang sudah pernah bekerja lebih dari satu tempat atau perusahaan, sudah tentu Anda pernah memiliki atasan dengan berbagai macam karakter.

Berbeda orang, berbeda pula karakternya. Jika disuatu tempat Anda bisa memiliki atasan yang memiliki karakter yang baik, misalnya baik cara bicaranya, fair dalam menilai, bisa membuat suasana santai namun tugas-tugas tetap dapat terselesaikan, bisa jadi ketika Anda pindah tempat kerja atau atasan Anda diganti dengan orang baru, Anda akan menemui seseorang yang memiliki karakter yang berbeda, misalnya atasan yang membuat suasana tegang, suka membentak, serta jika melakukan kesalahan tidak mau mengakuinya bahkan menyalahkan anak buahnya. Anda familiar dengan keadaan ini?

Ada kalanya kepribadian dan karakter pimpinan tidak sama dengan karakter dan cara kerja kita. Jangan langsung menyerah dengan keadaan dan segera berniat pindah kerja tapi kenalilah tipe karakter dan kepribadian atasan Anda dan jadilah bawahan yang inisiatif, penuh ide, cerdas, dan mampu membawa suasana. Bagaimanapun juga atasan tetaplah atasan.

Berikut adalah cara cerdas untuk menyiasati berbagai tipe karakter atasan menurut buku Heart at Work karangan Jack Canfield dan Jacqueline Miller

1) “Too Bossy Boss”

Ini adalah salah satu tipe karakter atasan yang mungkin paling sering ditemui. Cirinya sangat mudah dikenali. Dia sangat suka menyuruh dan tidak suka berargumentasi. Baginya perintah adalah titah! Bawahan adalah pelayannya.

Tips menghadapi atasan seperti ini adalah jangan ikuti permainannya. Pimpinan yang bossy perlu didekati dengan lembut. Cari waktu saat dia terlihat kalem, tak bermasalah dan santai.

 Jangan sesekali menyinggung self image-nya sebagai atasan. Sampaikan padanya bagaimana cara dia memimpin mempengaruhi cara kerja dan perasaan Anda. Atasan tipe ini memang tidak suka keterus terangan. Jadi pandai-pandailah mengemas pesan sehingga terdengar halus dan tidak menyinggung.

2) Perfeksionis

Atasan yang memiliki karakter ini biasanya pintar. Dia sudah punya cara-cara bekerja yang ia percaya paling baik sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang paling bagus pula. Dengan demikian dia cenderung memakai patokan – patokan pribadinya untuk mengukur anak buahnya. ‘Salah ‘ atau ‘ Saya belum puas’ adalah kata-kata yang paling sering keluar dari mulutnya. Sesempurna apapun hasil anak buahnya, tak pernah cukup sempurna untuknya.

Sebetulnya atasan tipe ini bisa kita ambil ilmunya untuk belajar mengenai kualitas. Ikuti polanya sampai titik dimana kita tak dapat lagi mengikuti iramanya. Ikuti tuntutan kesempurnaannya sampai Anda menyerah. Pada saat sudah merasa tak kuat lagi mengikuti ‘ukuran-ukuran’ kesempurnaan atasan Anda, coba secara diam-diam gunakan cara pribadi Anda untuk menyelesaikan suatu tugas. Siapa tahu ternyata hasilnya lebih bagus karena anda mengerjakannya dengan senang hati.

Atasan Anda masih belum puas juga? Biar saja, begitulah seorang perfeksionis, setidaknya Anda sudah mencoba berusaha untuk close-to-perfection!

3) Temperamental

Memiliki suara keras, hobi marah, teriak-teriak dan menggunakan kata-kata “sakti” ketika mencaci-maki bahkan kalau perlu memukul meja kerjanya adalah jelas ciri seseorang yang temperamental.

Yang pertama harus kita lakukan adalah biasakan diri mendengar dan melihat kemarahannya. Sekali dua kali merasa sakit hati wajar saja, tapi kalau sudah berbulan- bulan masih juga sakit hati, sebaiknya benahi kekebalan Anda menghadapi kemarahannya.

Atasan dengan karakter seperti ini biasanya suka sekali berkutat dengan problem karena dia merasa paling tahu akar problem itu. Tipe Bos ini akan terdiam jika kita menguraikan fakta-fakta.

Dengan bekerja terus bersamanya, anda akan punya peta mood-nya. Kapan dia marah dan kapan dia marah sekali. Disitulah kuncinya. Dengan ini Anda akan mengetahui kapan saat yang tepat untuk berbicara atau kapan harus diam. Be Smart!

4) Bos yang Tidak Pintar

Menghadapi tipe bos ini juga agak sulit. Bos ini sering membuat kesalahan, mulai dari salah presentasi, salah bertanya, dan salah bertindak. Biasanya para anak buah sering merasa malu jika harus pergi meeting bersama karena si bos kerap kali “salah sambung”.

Jangan terus meratapi kebodohannya. Ambil posisi sebagai mentor yang senantiasa mendukung penampilan bos. Kita bisa mulai membantunya dengan membuatkan proposal yang akan dia presentasikan. Dengan lebih dulu mempresentasikan kepadanya berarti dia secara tak langsung belajar dari anda bagaimana dia harus mempresentasikan proposalnya itu. Tawarkan bantuan kepadanya dengan sopan, “Jika nanti ada pertanyaan yang terlalu teknis, biar saya saja Pak yang menjawab,” Atau jika si bos memang sudah betul-betul tak percaya diri, Anda saja yang maju presentasi dan si bos berada di sisi Anda. Malah dia jadi lebih berwibawa. Hitung-hitung Anda menjual diri sendiri di tingkat yang lebih tinggi.

 

Sebenarnya tidak ada tipe atasan yang ideal karena setiap atasan yang ada akan cocok dengan jenis bawahan tertentu. Misalnya, seorang atasan yang otoriter akan bagus untuk seorang bawahan yang tidak punya inisiatif dan harus didorong terus menerus. Atasan yang otoriter akan menemui banyak masalah dengan anak buah yang terlalu kreatif. Anak buah yang mandiri akan nyaman bekerja dengan atasan yang tak kelewat peduli.

Jadi, langkah pertama untuk ‘mengatur’ atasan kita adalah dengan mengenali tipenya dan berusaha kompatibel dengannya.

Anda punya tipe atasan lain yang menurut Anda ideal? Atau  Anda seorang atasan? Termasuk yang mana tipe kepemimpinan Anda ?