Ega C Raymandha Ega C Raymandha, December 8th, 2015

5 karakter

Manusia tercipta dengan memiliki berbagai karakter dalam dirinya. Ada yang baik, ramah, galak, jutek, egois, individualistic, introvert, ekstrovert dan sebagainya karena memang sudah dasarnya manusia sebagai makhluk yang bersifat majemuk memiliki sifat yang berbeda-beda.

Tak terkecuali didalam dunia kerja, mulai dari level teratas (pimpinan) sampai karyawan level paling bawah pasti memiliki karakter yang berbeda. Terkadang perbedaan karakter ini seringkali menjadi persoalan atau hambatan baik dalam berkomunikasi dan bersosialisasi sesama rekan kerja, bekerja sama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, atau ketika menyatakan pendapat dan ide didalam suatu forum baik kepada sesama rekan kerja atau kepada atasan.

Anda tidak dapat mengubah kepribadian seseorang begitu saja. Agar hal seperti ini tidak mengganggu pikiran Anda, lakukan pendekatan dengan mengubah mindset dari “Bagaimana caranya mengubah mereka?” menjadi “Bagaimana aku bisa merubah diri sendiri agar bisa bekerjasama lebih baik lagi dengan mereka?”

Berikut adalah 5 karakter rekan kerja menurut Eva Rykrsmith dan tips menghadapinya

1) The Blatant Slacker (Si Pemalas)

Tipe ini memiliki kebiasaan suka melimpahkan tanggung jawab pada orang lain disekitar mereka, suka menunda dan selalu saja ada alasan yang mereka buat. Deadline bagi mereka hanyalah dianggap sebagai saran yang tidak harus dilakukan.

Misalnya dalam suatu proyek bersama, pernahkah Anda menemui rekan kerja yang ketika diberi tugas tidak langsung dikerjakan? Ketika kita ingatkan malah memberi jawaban “Deadline-nya Jum’at kan..? yaudah nanti lah sekarang juga masih Selasa. Santai ajaa”. Pernah?

Jika anda berada satu tim dengn rekan seperti ini, yang sebaiknya Anda lakukan adalah tetap fokus pada pekerjaan Anda. Jika mereka dirasa sudah mengganggu jalannya pekerjaan dan sangat menyebalkan, suarakan pendapat Anda kepada pimpinan. Jika Anda seorang pimpinan, inilah saatnya untuk menerapkan micromanaging yang efektif. Berikan tugas-tugas skala kecil dengan deadline yang ketat, pantau terus secara berkala.

2) The Well-Meaning Incompetent (Si Inkompeten)

Sebetulnya tipe seperti ini memiliki sifat pekerja keras, hanya saja kualitasnya berada di bawah standar atau masih kurang maksimal. Mereka selalu membutuhkan pertolongan orang lain di sekitarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkannya jika pekerjaannya kurang maksimal. Setidaknya ia sudah berusaha menyelesaikannya. Cara menghadapinya adalah jika Anda memiliki waktu untuk membantunya pastikan Anda mengajarkan mereka bagaimana cara melakukan pekerjaan yang benar, BUKAN menyelesaikan pekerjaan tersebut untuk mereka. Untuk para manajer, berikan kritik yang jujur atas performa kerja mereka tanpa harus ditutup-tutupi. Biarkan mereka tahu skill apa yang dibutuhkan agar lebih efektif bekerja, jika mereka tetap tidak bisa berubah, mungkin mereka harus dipindah ke posisi lain

 3) The Fraud (Si Pembohong)

Tipe ini biasanya suka sesumbar dan suka pamer hasil pekerjaannya. Mereka merasa lebih ingin dipandang sebagai karyawan yang kompeten, pekerja keras, dan mampu daripada benar-benar melakukannya. Dengan kata lain ini adalah tipe karyawan yang talk more do less. Perlu diwaspadai bahwa tipe seperti ini sering mengaku-ngaku hasil kerja orang lain.

Bagaimana jika hal tersebut terjadi?

Bersikaplah proaktif membela diri supaya rekan kerja tipe ini tidak akan mengklaim pekerjaan Anda sebagai pekerjaannya yang sudah berhasil dilakukan. Jika perlu sebutkan tentang posisi dan peran  Anda dalam proyek tersebut. Ingatlah bahwa Anda juga perlu mengatur imej saat di kantor dan menjual skill serta memiliki prestasi kerja. Anda juga perlu pengakuan atas hasil kerja yang telah dilakukan.

4) The Hyper-Competitive Peer (Si Over Competitive)

Anda harus mewaspadai dengan rekan kerja tipe ini. Mereka biasanya rela melakukan apa saja demi mendapatkan promosi dan kenaikan jabatan, bahkan menjelek-jelekkan Anda dibelakang sekalipun. Mereka hanya peduli pada diri sendiri dan akan sangat benci jika ada seseorang yang (menurut mereka) menghalangi tujuannya.

Tipe ini akan sulit diajak bekerjasama karena mereka sudah dipenuhi dengan kepentingan sendiri, yang bahkan rela mengorbankan orang lain dan perusahaannya.

Bagaimana menghadapi rekan kerja seperti ini?

Jika Anda adalah tipe pekerja teamwork, sudah jelas bahwa Anda adalah kebalikan dari tipe ini dan sadarlah bahwa mereka ini berada di dunia yang berbeda dengan Anda. Minta partisipasi mereka hanya jika ada proyek yang berhubungan erat dengan minatnya dan perlu diperhatikan bahwa mereka tidak akan pernah mau melakukan hal-hal tulus demi kemajuan tim. Jika Anda adalah bosnya, manfaatkan sifat kompetitifnya sebagai kelebihan, misalnya jika posisinya adalah sales, manfaatkan untuk mencapai target penjualan.

 5) The Aggravating Boss (Boss yang Menyebalkan)

Dalam dunia kerja kita tidak bisa menentukan atau memilih pimpinan seperti apa yang kita inginkan. Sebagai karyawan kita mau tidak mau harus menerima siapapun atasan kita saat itu. Tidak semua pimpinan memiliki kepribadian yang baik. Untungnya, kita tidak diharuskan merasa suka dengan para atasan atau bahkan harus berteman dengan mereka, tapi setidaknya Anda bisa bekerjasama dengan mereka secara efektif.

Bagaimana caranya? Caranya adalah tunjukkan secara tegas dan tepat apabila ada hal-hal atau tindakan dari atasan yang menurut Anda tidak adil, kurang tepat, atau salah karena pimpinan juga manusia yang pasti pernah salah. Misalnya, Apakah dia gagal dalam memberikan pengarahan? Apakah dia tidak efektif dalam menjalankan aspek penting pekerjaannya? Atau Anda secara pribadi merasa sulit mentolerir kepribadiannya?

Jika Anda dapat mengindentifikasi perilaku spesifik yang mengganggu Anda, barulah Anda bisa mengambil langkah untuk mengelola situasi ini.

Lima karakter orang di atas sudah cukup mewakili dari para tipe rekan kerja yang sulit diajak bekerjasama. Kuncinya adalah pahami sifat mereka dulu, baru setelah itu Anda dapat mengambil tindakan.